Civil & Architecture

Bagaimana Teknologi Konstruksi Membuat Pencakar Langit Semakin Menjulang dan Ramping

Kaki langit Manhattan, New York, Amerika Serikat, semakin berbeda dibanding satu dekade lalu. Bangunan-bangunan tinggi mencakar angkasa terus bermunculan. Fungsinya pun bermacam-macam, ada apartemen, perkantoran, hingga perhotelan.

Sejumlah pencakar langit baru tersebut dalam beberapa kasus tampaknya melawan gravitasi. Sebut saja SHoP Architects’ 111 W. 57 St, Christian de Portzamparc’s One57, Jean Nouvel’s 53 W. 53rd St., dan Rafael Viñoly’s 432 Park Ave.

Hal yang menarik dari struktur-struktur jangkung ini adalah dimensi eksentrik. SHoP Architects’ 111 W. 57 St. misalnya, memiliki rasio lebar dan tinggi satu berbanding dua puluh tiga, sementara menara World Trade Center adalah satu berbanding tujuh. Beberapa struktur baru ini, terutama pada bagian atasnya, hanya memiliki satu unit per lantai.

Arsitek dan insinyur telah menyesuaikan perbaikan dalam baja dan beton bertulang yang memungkinkan pengembang membangun gedung dengan ketinggian melebihi Empire State Building. Hasilnya, saat ini adalah zaman keemasan bagi bangunan tinggi dan ramping.

Selama beberapa waktu yang lalu, terobosan teknologi telah memungkinkan pembangun untuk mengurangi proporsi elemen, misalnya struktur baja dan beton. Kini, bangunan dengan lebih banyak kaca, mulai menjamur. Meski bangunan terlihat mudah goyah, pada kenyataannya, terdapat kekuatan luar biasa.

Sampai akhir abad ke-19, sebagian besar bangunan memanfaatkan dinding batu dan rangka besi. Sayangnya, material ini hanya bisa menopang sekitar 10 lantai.

Lalu, datanglah baja. Pencakar langit seperti Gedung Flatiron mampu melambung begitu tinggi karena mereka ditahan oleh kerangka dari balok baja pada struktur dasarnya.

Pada tahun 1930-an, kemajuan fabrikasi kaca, membuat batu tersingkirkan. Bangunan Mies van der Rohe pada tahun 1922 contohnya, mulai menggunakan tirai kaca.

Kemudian, selama tiga dekade terakhir, insinyur telah menemukan berbagai inovasi dalam alternatif bahan dan desain, terutama di bidang beton bertulang. Inovasi ini memungkinkan pengembang mengurangi ukuran kolom eksterior.

Leo Argiris, seorang pelaku rekayasa, desain dan perencanaan perusahaan Arup, mengatakan, tidak ada penemuan baru dalam evolusi beton bertulang. Menurut dia, inovasi terdapat pada serangkaian langkah-langkah dalam memastikan bahwa setiap materi yang digunakan berkualitas tinggi dan bahan-bahan ini dicampur dan dituangkan pada waktu yang tepat.

Sementara itu, kendala lain yang juga penting untuk dipertimbankan adalah bagaimana mengangkut warga ke lantai paling dari bangunan-bangunan tinggi ini. Gedung Park Avenue misalnya, yang memiliki 96 lantai, menempatkan banyak lift, akan menghabiskan ruang. Sementara lift yang sedikit akan membutuhkan waktu lama.

Sumber : kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 + eleven =